Money

IHSG Diprediksi Melemah Seiring Melonjaknya Harga Minyak Global

Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.460- 7.860

Jakarta (KABARIN) - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan cenderung melemah pada perdagangan Senin (9/3). Sentimen utama yang membayangi pasar saham datang dari lonjakan harga minyak dunia yang kini sudah menembus level 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico mengatakan kenaikan harga minyak global berpotensi menekan pergerakan pasar saham, termasuk IHSG.

"Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.460- 7.860," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Lonjakan harga minyak ini tidak lepas dari memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta menyerang infrastruktur energi milik Iran, termasuk depot penyimpanan minyak dan fasilitas terkait di sekitar Teheran serta provinsi Alborz. Serangan tersebut memicu kebakaran besar di sejumlah lokasi.

Situasi semakin memanas setelah Iran membalas dengan meluncurkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel. Tidak hanya itu, Iran juga disebut menargetkan aset militer Amerika Serikat, termasuk beberapa pangkalan militer di negara-negara Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia. Pasalnya, kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi energi global, sementara Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Pada Senin pagi sekitar pukul 07.50 WIB, harga minyak global tercatat melonjak tajam. Crude Oil WTI berada di level 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent Oil menyentuh 109,53 dolar AS per barel.

"Kami menilai eskalasi serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama jika konflik mempengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak global," ujar Nico.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati kebijakan pemerintah terkait lonjakan harga minyak global. Pemerintah membuka opsi untuk menyesuaikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau bahkan menaikkan harga BBM bersubsidi jika tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 semakin besar.

Tanpa penyesuaian kebijakan, defisit APBN diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Pemerintah sebenarnya masih memiliki opsi lain untuk menjaga disiplin fiskal, seperti melakukan efisiensi belanja negara atau menunda sejumlah proyek infrastruktur. Namun langkah ini juga memiliki konsekuensi terhadap aktivitas ekonomi, terutama di sektor konstruksi yang bisa melambat.

"Sementara itu, apabila pada akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya bisa memicu kenaikan inflasi,meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat," ujar Nico.

Sentimen global juga turut memengaruhi pasar. Pada perdagangan Jumat (6/3), bursa saham Amerika Serikat di Wall Street kompak ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55, indeks S&P 500 terkoreksi 1,33 persen ke posisi 6.740,02, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,59 persen ke level 22.387,68.

Di sisi lain, IHSG sendiri pada akhir perdagangan pekan lalu juga ditutup di zona merah. Pada Jumat (6/3), IHSG terkoreksi 124,85 poin atau turun 1,62 persen ke posisi 7.585,68. Sementara indeks saham unggulan LQ45 juga melemah 11,77 poin atau turun 1,49 persen ke level 776,04.

Dengan kombinasi tekanan global dari lonjakan harga minyak dan sentimen geopolitik, pergerakan IHSG pada awal pekan ini diperkirakan masih akan menghadapi tekanan meskipun pelemahannya diproyeksikan terbatas.

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: